Cara Menyikapi Penyakit Hati Riya
Cara Menyikapi Penyakit Hati Riya - Kembali lagi di blog Modifamp, Pada kesempatan kali ini admin akan membagikan artikel tentang Cara Menyikapi Penyakit Hati Riya, dan admin telah menyiaplkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan pada Artikel Motivasi dan gaya hidup, yang kami tulis ini dapat dengan mudah anda pahami. baiklah, tidak usah berlama-lama selamat membaca.Judul : Cara Menyikapi Penyakit Hati Riya
link : Cara Menyikapi Penyakit Hati Riya
Baca juga
Cara Menyikapi Penyakit Hati Riya
Riya ialah melaksanakan suatu kebaikan hanya untuk menerima kebanggaan orang lain, dianggap baik dan menerima evaluasi yan baik, sugguh ini ialah hal yang sangat sia-sia sebab perbuatan riya ini hanya akan menghanguskan pahala dari amalan yang kita perbuat selain itu hidup kita akan sengsara karan selalu memikirkan penilian orang lain, maka sungguh bila hal yang demikian ada pada diri kita, melakkan urusan dunia dan akherat hanya untuk menerima penialaian, penghormatan dan kebanggaan insan berati kita telah terkena salah satu penyakit hati yaitu riya, beruntunglah orang-orang yang tidak disiksa oleh kerinduan akan kebanggaan dan dihormati orang lain sebab riya sama dengan menyekutukan Allah Swt, seorang yang riya dalam setiap perbuatan ada tujuan dan cita-cita lain selain Allah Swt.
Rasulullah bersabda dalam salah satu hadistnya, “sesungguhnya yang paling saya khawatirkan atas kau ialah syirik kecil”. Para sobat bertanya, “apa syirik kecil itu wahai Rasulullah?” ia menjawab, “Riya, kelak di hari final zaman dikala amalan insan diberi balasan, Allah ‘Azza wa jalla akan menyampaikan pada mereka (yang berbuat riya”), “pergilah kepada orang yang kau harapkan pujianya sewaktu di dunia dan lihatlah apakah kau mndapat pahala dari mereka?” (HR. Ahmad)
“Hai orang-orang yang beriman, jangnlah kau menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), ibarat orang yang menafkahkan hartanya sebab riya kepada insan dan tidak beriman keada Allah dan kari akhir, maka perumpamaan orang itu ibarat kerikil licin yang di atasnya ada tanah, kemudian kerikil itu ditimpa hujan lebat, dia higienis tidak bertanah, mereka tidak menguasai satupun dari apa yang mereka usahakan dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir,” (QS. Al-Baqarah : 264)
lalu bagaimana ciri-ciri orang yang riya, orang yang riya ialah mereka yang tidak tulus dalam melaksanakan sesuatu, ibarat dikala ada sampah di jalan, orang yang riya hanya akan bila dilihat oleh orang lain dan berharap menerima kebanggaan atau di pandang baik, tumpuan berkutnya ialah contohnya orang yang shalatnya khusuk dikala ada dan di lihat oleh mertua, sehingga amalanya menjadi sia-sia dihadapan Allah Swt, kita tidak sanggup menghakimi seorang sebagai orang yang riya, kerana perbedaan riya dan tidak adanya pada keikhlasan sedang tulus ada pada hati dan maskipun seorang bederma terang-terangan tapi siapa yang tahu isi hati orang tersebut kecuali Allah Swt.
Dengan demikian sanggup kita pahami bahwa kunci untuk mengatasi Riya ialah dengan menjaga keihlasan, sebab indahnya bederma terletak pada keikhlasan kita dalam melaksanakan sesuatu, keihlasan sangat berbanding lurus dengan tingkat keyakinan kita kepada Allah Swt, semakin yang kita pada Allah Swt maka semakin yakin pula bahwa semua amalan kita semata-mata hanya akan kembali padanya dan insan ialah sebagai sarana sampainya nikmat, rezeki dan ujian dari Allah Swt. Msekipun orang mati-matian memuji kita bila Allah Swt menghinakan kita, maka kita tetap berada dalaj kehinaan.
Rasulullah Saw selalu menjaga niatnya dalam bederma yang tampak maupun yang idak dalam pandangan manusia, yang ia lakukan semata-mata hanya sebab Allah Swt, riya itu dihentikan tapi bukan berati semua alaman kita harus di lakukan secara sembunya, kita patut mencntoh Rasulullah yang dalam bederma tidak semuanya di lakukan secara sembunyi-sembunyi bahkan ada beberapa amalan yang sengaja di perlihatkan seupaya kita sanggup mencontohnya, jadi riya bergotong-royong bukan perkara perbuatan yang tampak atau tidak tampak di mata insan tetapi perkara niat dalam hati kita, riya sangat akrab kaitanya dengan persoalan niat, sedangkan niat adanya di hati, dari niat itulah awal segala perbuatan kita, oleh akibatnya insan hanya sanggup meniai riya atau tidaknya hanya dari prilaku tetapi urusan niat hati hanya Allah Swt yang tahu
Manusia ialah makhluk yang mempunyai hawa nafsu, Oleh akibatnya meskipun kita bederma secara sembunyi-sembunyi belum tentu kita bederma dengan ikhlas, mungkin saja walaupun bederma sembunyi-sembunyi muncul fikiran kagum terhadap diri sendiri berhati-hatilah terkena ‘Ujub, yaitu merasa kagum dengan dirinya sendiri.
Berbuat baik itu gampang dari yang kecil hingga yang besar, tetapi dalam berbuat baik itu usaha yang sesungguhnya ialah usaha menjaga niat semoga tetap lurus sebab insan mahkluk yang mempunyai hawa nafsu, maka dari itu kita perlu mencar ilmu untuk menjaga niat dan menanamkan pada hati kita cukuplah hanya Allah bagi kita Allah Swt maha melihat segala amalan kita dan dialah yang membalasa segala amalan kita.
Demikianlah artikel kali ini tentang Cara Menyikapi Penyakit Hati Riya
dengan adanya artikel Cara Menyikapi Penyakit Hati Riya yang admin bagikan kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan atau artikel menarik lainnya dan terimaksih telah berkunjung.
Anda sekarang membaca artikel Cara Menyikapi Penyakit Hati Riya dengan alamat link https://modifamp.blogspot.com/2015/09/cara-menyikapi-penyakit-hati-riya.html
